The Doctor Dikabarkan Akan Menggunakan tim VR46 untuk MotoGP 2022

0
110
Valentino Rossi

MotoGP – Valentino Rossi diklaim bakal membangun tim MotoGP usai membeli tim Esponsorama Avintia. The Doctor dikabarkan akan menggunakan tim VR46 untuk MotoGP 2022.

Rumor Rossi akan memiliki tim di MotoGP sudah muncul dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan pihak Dorna Sports, melalui CEO Carmelo Ezpeleta, sempat menyatakan akan memberi satu tempat bagi tim Rossi di MotoGP setelah pembalap 41 tahun itu pensiun.

VR46 sudah memiliki tim di Moto3 dan Moto2, dan Speedweek mengklaim tim yang dibangun pada 2014 itu bisa melebarkan sayap dengan tampil di MotoGP mulai musim 2022. VR46 milik Rossi akan tampil di MotoGP 2022 menggunakan slot Esponsorama Avintia.

Namun tentu saja dana yang dikeluarkan pembalap Italia itu sangat besar jika ingin membentuk tim di kelas utama MotoGP.

Dilansir dari Race, bos tim MotoGP papan atas disebut harus merogoh kocek 10 sampai 15 juta Euro (sekitar Rp173,1 sampai Rp259,7 miliar) untuk menjalankan sebuah tim dalam satu musim penuh.

Setiap tahun biaya tersebut bisa naik tergantung biaya sewa mesin, berdasarkan spesifikasi, dari pabrikan.

Biaya sewa mesin motor sekitar 2 juta Euro atau sekitar Rp34,9 miliar. Itu untuk spesifikasi mesin motor setahun lebih lawas atau bukan yang paling upgrade.

Sementara untuk mesin keluaran terbaru atau yang sedang dikembangkan bisa mencapai 4 juta Euro atau Rp69 miliar lebih.

Harga tersebut belum termasuk biaya spare part. Tidak mengherankan mesin merupakan pengeluaran terbesar tersendiri dalam sebuah tim MotoGP.

Selain itu ada biaya-biaya lain seperti perangkat elektronik yang bisa mencapai 100 ribu Euro atau Rp1,7 miliar. Harga tersebut sudah termasuk sensor, kabel, dan panel.

Untuk suku cadang, secara keseluruhan yang dikeluarkan juga terhitung sangat besar. Satu musim, suku cadang seperti rem, ban, bahan bakar, pelumas, dan lain-lain bisa mencapai menghabiskan 6 juta Euro atau sekitar Rp103 miliar.

“Suku cadang adalah pengeluaran besar. Ban, rem, suspensi, bahan bakar, pelumas, dan semua suku cadang habis pakai yang kami gunakan musim ini adalah 6 juta Euro,” kata bos sebuah tim MotpGP yang tidak disebutkan namanya.

Di luar biaya teknis sepeda motor, maka sebuah tim juga harus merogoh kocek untuk membayar gaji pembalap yang dikontrak. Semakin terkenal dan hebat pembalap semakin mahal.

Ada sejumlah kasus pabrikan bisa membayar sebagian atau keseluruhan gaji pembalap. Tapi ada banyak kasus juga tim masih harus mengeluarkan uang yang banyak untuk mengamankan jasa pembalap level atas.

“Ketika Anda mempertimbangkan bahwa apa yang dibayar Ducati kepada Jorge Lorenzo untuk satu musim, hanya untuk gajinya, itulah seluruh anggaran yang kami butuhkan untuk musim ini,” ucap bos tim tersebut.

“Ketika Anda menyadarinya, Anda menyadari betapa upah itu dapat memengaruhi seluruh anggaran Anda,” kata dia lagi.

Gaji pembalap ada di sekitar 250 ribu (Rp4,3 miliar) hingga 1,5 juta Euro (Rp25,9 miliar). Pembalap-pembalap seperti Cal Crutchlow, Jack Miller, dan Fabio Quartararo dapat menuntut gaji lebih tinggi.

Bahkan tim Repsol Honda harus mengeluarkan biaya 13 juta Euro (Rp225,1 miliar) untuk menggaji Marc Marquez di tahun 2019.

Di luar itu semua, ada juga biaya-biaya lain yang mesti masuk dalam pos anggaran sebuah tim. Seperti biaya perjalanan “keliling dunia” setiap balapan, biaya perbaikan akibat kecelakaan motor, termasuk pengeluaran untuk perawatan pembalap yang cedera.

Lalu ada juga biaya penyewaan truk pengangkut logistik, biaya staff, bengkel, multimedia, penginapan, kantor pusat, dan la9n-lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here